
RAJOTUHO.COM – Mar’ie Muhammad masuk kuliah tahun 1959–1969. Ia mengambil jurusan akuntansi dan meraih gelar S1 dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI). Saat kuliah, ia juga pernah menjadi pembimbing kegiatan belajar di fakultasnya. Kuliah sempat terhenti, karena semua universitas ditutup selama dua tahun. Penutupan dilakukan karena pemerintah menganggap situasi genting dan tidak kondusif akibat demonstrasi yang terjadi hampir setiap hari. Perkuliahan dilanjutkan setelah Soeharto diangkat menjadi presiden.
JB Sumarlin, ekonom sekaligus Menteri Keuangan (Menkeu) sebelum Mar’ie, yang juga pernah menjadi dosen ekonomi, moneter, dan keuangan negara, menyebutkan, “Mar’ie adalah mahasiswa yang baik, jujur, dan disiplin.”
Semasa mahasiswa, Mar’ie aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia menjadi Sekretaris Jenderal Pengurus Besar (PB) HMI periode 1963–1965. Suatu artikel dalam Majalah Tempo yang terbit tanggal 7 Agustus 1993 menyatakan, Mar’ie dikenal sebagai ahli siasat yang tahu medan sejak menjadi Sekjen PB HMI.
Mar’ie Muhammad mulai memegang posisi Sekretaris Jenderal PB HMI pada rapat pertama PB HMI yang diselenggarakan di Markas Jalan Diponegoro 16. Hal tersebut dinyatakan oleh mantan ketua umum PB HMI periode 1963-1965 Sulastomo dalam buku Hari-Hari Yang Panjang 1963 – 1966 (CV Haji Masagung, 1990). Disebutkan, saat itu sebagian besar tim PB HMI berasal dari UI.

Sumber: Media Keuangan
Dalam buku tersebut, Soelastomo juga menceritakan bahwa mantan Presiden Soekarno sempat menanyakan hal-hal ringan kepadanya dalam sebuah pertemuan dengan PB HMI di Istana Merdeka, Februari 1966.
“Antara lain beliau bertanya kepada saya (kira-kira): Orang Islam itu memang boleh beristri sampai empat. Meskipun demikian, ada batasannya. Siapa saja yang tidak boleh kita kawini? Saya tidak bisa menjawab persis. Kalau tidak salah, saudara Mar’ie Muhammad telah menjawab pertanyaan ini dengan jitu. Dan Bung Karno tertawa gembira,” jelas Soelastomo dalam buku itu.
Periode pemerintahan Soekarno merupakan masa yang sangat genting bagi HMI. Terdapat ancaman pembubaran dari pemerintah. Aksi demi aksi perseteruan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) rutin diarungi HMI dan organisasi kaum muda lainnya yang anti-komunis. Puncaknya, penculikan dan pembantaian para petinggi Angkatan Darat atau Gerakan 30 September (Gestapu), yang pecah pada tahun 1965. PKI diyakini menjadi dalang dari insiden berdarah yang menggegerkan seantero negeri tersebut.
Baca Juga: Fenomena Palu Arit (PKI)
Geram dan tidak tinggal diam, organisasi mahasiswa yang terdiri dari berbagai golongan dan agama di antaranya HMI, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Perserikatan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Pemuda Ansor, dan kelompok lainnya berkumpul agar pergerakan mereka lebih terkoordinasi melawan dan menumpas PKI.
Perkumpulan ini membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada tanggal 27 Oktober 2018 yang dikenal dengan rangkaian demonstrasi Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura). Isi Tritura adalah (1) Bubarkan PKI; (2) Rombak/bubarkan Kabinet Dwikora; dan (3) Turunkan harga kebutuhan pokok.
Mar’ie, bergotong royong dengan Cosmas Batubara, David Napitupulu, Fahmi Idris, dan tokoh lain berperan sebagai pimpinan KAMI. Ia menjadi Ketua Presidium KAMI. Etty mengatakan, Mar’ie sering mendapat panggilan mendadak untuk menghadiri rapat KAMI. Akibatnya, waktu makan dan istirahat Mar’ie menjadi tidak teratur. “Kami juga tidak sempat pacaran, karena sibuk demonstrasi. Bahkan pernah 2–3 kali batal menonton bioskop, gara-gara Bapak mendadak harus rapat. Alhasil, saya nonton sendiri di Bioskop Menteng,” kenang Etty sambil terkekeh.
Di mata Etty, Mar’ie adalah pemimpin aksi yang luar biasa karena sangat memotivasi dan tidak gentar menyuarakan kebenaran.
Di dalam organisasi HMI, Mar’ie bertemu Etty untuk pertama kali. Etty sendiri menjadi salah satu kawan seperjuangan Mar’ie dalam melantangkan suara demonstrasi. Salah satunya ikut mengarak jaket kuning Arif Rahman Hakim, mahasiswa Kedokteran UI di Istana Negara, Bogor, yang gugur dalam aksi unjuk rasa berujung bentrokan dengan Resimen Cakrabirawa (Pasukan Pengawal Presiden) sebagai bentuk protes atas reshuffle kabinet Presiden Soekarno pada 21 Februari 1966 yang masih melibatkan orang PKI dalam pemerintahannya.
Dalam perjuangan KAMI, sosok Mar’ie dikenal sebagai orang yang tangkas bicara, gigih mempertahankan pendapatnya, tidak sabaran, tapi sering didengar oleh rekan-rekannya.
Selepas kuliah, Mar’ie tetap aktif dalam forum yang digelar di FE UI. Inilah pertemuan kali pertamanya dengan Waldemar Hutagalung, atau Bokes panggilannya. Bokes yang kelak menjadi salah satu sahabat Mar’ie baru saja menyelesaikan Masa Prabakti Mahasiswa (Mapram) sebagai mahasiswa baru dan menghadiri Final Discussion mengenai Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang dibawakan oleh Menteri Negara Bidang Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara Indonesia saat itu, Emil Salim. Itu terjadi sekitar tahun 1970-an.
Bokes mengenang, dalam diskusi tersebut, Mar’ie sebagai alumni FE UI sangat aktif bertanya. “Beliau masih muda, tetapi lincah berbicara,” demikian kesan Bokes.(Melati Salamatunnisa, Budiana Indrastuti)
Ayo Bung, Bubarkan PKI
Sumber: Media Keuangan